“kau masih mengharapkannya?”
“tidak”
“aku yakin!! kau masih mengharapkannya”
“tidak!”
“jujur saja. Aku tahu itu”
“sudah ku bilang. Aku tidak mengharapkan siapapun. Sebodoh itukah aku?”
“apa maksudmu? Siapa yang bodoh? Aku tidak bodoh dan kau pun tidak sama sekali. Oh iya, aku tahu yang bodoh. Dia. Ya, dia. Laki-laki itu yang bodoh. Sangat bodoh. Dia melepaskan begitu saja wanita yang sangat mencintainya. Aku yakin karma akan menegurnya kelak”
“tidak, aku tidak ingin seperti itu. Aku memang mencintainya. Tapi apa daya. Aku tidak ingin memaksanya. Aku tidak ingin dia berpura-pura mencintaiku atau bersimpati padaku. Tidak. Aku tidak akan biarkan itu terjadi”
“tapi, sikapnya padamu yang membuatku mengutuknya. Kau masih ingat? Dia pernah berkata kasar padamu. Dia tak mengacuhkan semua perkataanmu. Kau masih saja menghubunginya.sudahlah, hentikan semua ini. Aku tidak ingin kau sakit hati. Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Karena… emm tidak, tidak jadi”
“karena apa?”
“tidak, bukan apa-apa”
“karena apa?”
“Karena… emmm…”
“karena apa? Katakan!! jangan buat aku penasaran”
“ciieee penasaran”
“ish, ayo dong jawab. Karena apa?”
“karena aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu. Sejak dulu, sejak kita bertemu. Sejak kita berkenalan. Sebelum laki-laki itu datang. Aku mencintaimu. Aku bodoh. Aku pengecut. Aku tak berani jujur padamu. Karena aku takut. Aku takut kehilanganmu. Aku takut kau pergi dan membenciku jika tahu hal ini. Maaf, aku mencintaimu”
“lucu sekali kau. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bingung. Dia pergi, dan sekarang kau datang dengan cintamu. Hey, hatiku bukan piala bergilir. Ya Tuhan, apa salahku?. Dengar!! aku mencintaimu. Tapi dulu. Saat pertama kali kita bertemu. Kau selalu buatku merasa nyaman. Kau selalu membuat jantungku maraton ria. Kau selalu memuji-miji namaku, seakan-akan akulah wanita terakhir di bumi. Kau selalu membuatku marah, namun seketika kau membuatku tersenyum. Kau selalu ada buatku. Kau selalu berada didekatku walau hanya lewat suara. Aku mencintaimu sebelum mengenal dia. Tapi kau kalah. Kau sudah kalah”
“apakah tidak ada kesempatan lagi buatku?”
“aku tidak tahu”
“baiklah. Kalau tidak ada tidak masalah”
“apakah ingin pergi?”
“tidak”
“kenapa?”
“karena aku mencintaimu”
“lalu?”
“akan terus mencintaimu dan tak akan pergi”
“sampai kapan?”
“sampai kau mencintaiku”
“jika aku sudah mencintaimu. Apa setelahnya?”
“aku tidak tahu”
“kenapa tidak tahu?”
“tidak tahu”
“kau mencintaiku?”
“iya”
“serius?”
“iya”
“sesingkat itukah jawabanmu?”
“iya”
“marah ya?”
“tidak”
“benci?”
“tidak akan”
“lalu?”
“sudahlah kenapa bertanya terus?”
“apa kau lelah?”
“tidak”
”bosan?”
”bosan?”
“tidak!!!”
“kau mau menolongku?”
“apa?”
“mau?”
“apa?”
“mau?”
“ok. Aku mau. Apa yang harus aku lakukan?”
“buatlah aku jatuh cinta padamu (lagi)!!!”
“baiklah tuan putri!! perintahmu segera hamba laksanakan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar